Jumat, 20 Februari 2009

TUJUAN HUKUM ISLAM

Tujuan hukum Islam sejalan dengan tujuan hidup manusia serta potensi yang ada dalam diri manusia dan potensi yang datang dari luar dirinya (akal dan wahyu), yakni kebahagiaan hidup di dunia dan akherat. Kebahagiaan hidup hanya mungkin dengan cara menginduksi benda-benda yang menyenagkan dan bermanfaat dan menghindarkan diri dari segala hal yang merusak. Berdasarkan tujuan inilah tujuan Hukum Islam yang utama ialah jalb al masalih wa daf’ al-madar (mengambil segala yang bermaslahat serta menolak segala yang merusak) dalam rangka menuju keridhoan Allah ssuai dengan prinsip tauhid.[1]
Menurut Abu Ishaq al Shatibi, tujuan hukum islam ialah memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Kelima tujuan hukum islam tersebut dalam kepustakaan disebut al-maqasid al-khamsah atau al-maqasid al-shari’ah (tujuan-tujuan hukum islam).
Pemeliharaan agama islam adalah hal yang paling esensial dari diturunkannya syariah. Tegaknya agama islam secara sempurna adalah merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Memelihara dan menjamin jiwa adalah memelihara hak untuk hidup secara terhormat dan menjamin tidak terjadinya penganiayaan dan pembunuhan. Rusaknya akal merupakan rusaknya manusia secara keseluruhan karena dengan adanya akal sebagai sarana untuk membedakan baik dan buruk adalah anugerah yang tidak dijumpai pada selain manusia. Islam menjamin kebebasan berkarya, berfikir dan berpendapat. Menurut Abu Zahrah pentingnya pemeliharaan akal ditinjau beberapa segi, yaitu: pertama, bahwa akal tidak dapat diklaim sebagai hak murni pribadi namun memiliki fungsi sosial; kedua, orang yang membiarkan akalnya dalam bahaya akan menjadi beban yang harus dipikul masyarakat; ketiga orang yang akalnya terkena bahaya menimbulkan kerawanan sosial.
Keturunan dalam islam merupakan hal yang mendapatkan perhatian yang serius. Rusaknya generasi akan mengakibatkan rusaknya manusia seutuhnya, untuk itu islam mensyariahkan lembaga pernikahan sebagai satu-satunya sarana yang sah untuk terpeliharanya keturunan dan kehormatan manusia.
Hukum islam mengatur dan menilai harta sejak perolehan hingga pembelanjaannya, disamping itu islam juga sangat melindungi harta yang ada pada seseorang.[2]

Tujuan Hukum Islam dapat dibagi menjadi dua segi:
Dari segi pembuat Hukum Islam
Tujuan hukum islam adalah:
a) Untuk memenuhi keperluan hidup manusia
b) Untuk ditaati dan dilaksanakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari
c) Supaya dapat ditaati dan dilaksanakan dengan baik dan benar, manusia wajib meningkatkan kemampuan untuk memahami hukum Islam dengan mempelajari usul al figh.
Dari segi pelaku & pelaksanan Hukum Islam
Tujuan hukum Islam adalah untuk mencapai kehidupan yang berbahagia dan mempertahankan hidup itu. Caranya adalah dengan mengambil yang bermanfaat, mencegah atau menolak mudarat bagi kehidupan. Dengan kata lain tujuan hukum islam ialah kemaslahatan hidup manusia.
[1] Hukum Islam Di Indonesia Pemikiran dan Praktek, Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung, Hal. 273.
[2] Abddul Ghofur Anshori, 2008, Hukum Islam Dinamika dan Perkembangannya di Indonesia, Kreasi Total Media, Yogyakarta, Hal. 34.

Tidak ada komentar: